Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Di Apotek Ravina Husada

    Tugas sekolah kali ini akan membagikan laporan praktek kerja lapangan yang telah dibuat dan di praktekan oleh anak – anak SMK Harapan Bersama  Tegal yang dilakukan di Apotek Ravina Husada Tegal  dengan tujuan berbagi informasi dan berbagi wawasan dalam menjalani praktek kerja lapangan. Berikut laporan praktek kerja lapangan di Apotek Ravina Husada Tegal  :
LAPORAN
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
DI APOTEK RAVINA HUSADA
Laporan Ini  Disusun Guna Menyelesaikan Tugas Praktek Kerja Lapangan Kompetensi Keahlian Farmasi
( Gambar Logo SMK Harapan Bersama Tegal )
Disusun oleh:
1.      Dwi Ayu Puspa Rini
2.      Munayah Azizah        
SMK HARAPAN BERSAMA TEGAL
Jl. Abdul Syukur no 7,Kel. Margadana Kota Tegal
TAHUN AJARAN 2018/2019

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
APOTEK RAVINA HUSADA
   Setelah membaca laporan ini dengan seksama menurut pertimbangan kami telah memenuhi persyaratan ilmiah sebagai laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Tahun 2018
Telah diperiksa dan disajikan
Pada hari ………………. Tanggal ………………2018
Menyetujui
                                           
Apotek Ravina Husada

(Christyana Anggraeni, S.Farm.,Apt)

Pembimbing 3
SMK Harapan Bersama

Eko Ade Nurdianto s, S.Farm
Mengetahui
Kepala Sekolah
SMK Harapan Bersama


(Drs. H. Jaenudin, SH.,MM)

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
    Puji syukur kehadirat Tuhan Yang  Maha  Esa  atas rahmat dan karuniaNya sehingga penyusunan laporan Praktek  Kerja Lapangan (PKL) di Apotek Ravina Husada .
    Penyusunan  laporan praktek kerja lapangan ini adalah salah saty syarat memenuhi kompetensi kejuruan dan laporan ini juga sebagai bukti bahwa kami telah melaksanakan dan menyelesaikan praktek kerja lapangan di Apotek Ravina Husada.
    Pelaksanaan PKL yang telah kami laksanakan tidak akan terlaksana dengan baik apabila tidak didukung serta dibantu oleh berbagai pihak yang telah membimbing, mendorong, serta mengarahkan kami. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada:
1.      Drs, H. Jaenudin, SH.,MM selaku Kepala Sekolah SMK Harapan Bersama
2.      Eko Ade Nurdianto s, S.Farm Apt Selaku guru pembimbing
3.      Seluruh guru SMK Harapan Bersama yang telah membimbing kami selama disekolah
4.      Christyana Anggraeni selaku Pemilik Sarana Apotek Ravina Husada
5.      Asisten Apoteker” Apotek Ravina Husada”
6.      Semua pihak yang tidak kami sebutkan satu persatu yang telah membantu kami menyelesaikan laporan ini
   Dalam menyusun laporan praktek kerja ini kami sadar bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami mengharapkan saran, kritik, dan masukan yang membangun  guna melengkapi kekurangan laporan ini dapat memberi manfaat kepada kita semua.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

BAB 1
PENDAHULUAN
1. 1            Latar Belakang
   Tujuan Pendidikan Menengah Farmasi yang merupakan bagian dari pendidikan nasional adalah mendidik tenaga-tenaga farmasi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa pancasila UUD 1945, memiliki integritas dan kepribadian, terbuka dan tanggap terhadap masalah yang di hadapi masyarakat khususnya khususnya yang berhubungan dengan bidang kefarmasian.
    Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memili kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Berdasarkan tujuan diatas, maka lulusan Sekolah Menengah Kejuruan prdi Farmasi mampu :
A. Melakukan profesinya dalam pelayanan kesehatan pada umumnya, khususnya pelayanan kefarmasian.
B.  Berperan aktif dalam mengelola pelayanan kefarmasian dan menerapkan prinsip administrasi, organisasi, supervisi dan evaluasi.
C. Berfungsi sebagai anggota masyarakat yang kreatif, produktif, bersifat terbuka dapat menyesuaikan diri dengan perubahan IPTEK dan berpontesial ke masa depan aerta mampu memberikan penyuluhan kefarmasian kepada masyarakat dengan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.
D.    Membantu dalam kegiatan penelitian di bidang Farmasi kesehatan lainnya.

1. 2      Ruang Lingkup
Pemilik Sarana Apotek  : Christyana Anggraeni, S.Farm.,Apt

1. 3    Tujuan Dan Manfaat
A.    Tujuan
   Praktek kerja lapangan bertjuan agar siswa dapat mengaplikasikan kompetensi yang diperoleh  selama mengikuti pendidikan didunia kerja sesuai dengan kondisi sebenarnyaditempat kerja. Disamping itu melalui pendekatan pembelajaranini peserta PKL diharapkan :
1.      Mampu menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang sesungguhnya.
2.      Memiliki tingkat kompetensi standar sesuai yang dipersyaratkan oleh dunia kerja.
3.   Menjadi tenaga kerja yang berwawasan mutu, ekonomi, bisnis, kewirausahaan, budaya dan produktif.
4.      Dapat menyerap pergembangan teknologi dan budaya kerja untuk kepentingan pembangun diri
B.     Manfaat
1.    Manfaat bagi Apotek Ravina Husada
a.       Apotek Ravina Husada dapat mengenal kualitas peserta PKL yang sedang belajar dan bekerja di tempat PKL
b.      Apotek Ravina Husada dapat memberi tugas kepada peserta PKL untuk kepentingan pelayanan sesuia kompetensi  dan kemampuan yg dimiliki
c.       Umumnya peserta PKL telah ikut dalam proses pelayanan secara aktif peserta PKL sehingga pada pengertian tentu peserta PKL adalah tenaga kerja yang memberi keuntungan
d.      Memberi kepuasan bagi Apotek Ravina Husada karena diakui ikut serta menentukan masa depan anak bangsa malalui PKL
2.      Manfaat Bagi Sekolah
    Tujuan pendidikan untuk memberikan keahlian profesional bagi perserta didik lebihb terjamin pencapainnya. Terdapat kesesuaian anntara program pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja  atau sesuai dengan prinsip Link dan match .memberi kepuasan bagi penyelenggaraan pendidikan sekolah karena lulusnya lebih terjamin memperoleh bekal yang bermanfaat baik untuk kepentingan siswa, dunia kerja dan bangsa.
3.      Manfaat bagi praktikan atau peserta PKL
a.       Menambah pengetahuan tentang pelayanan perbekalan farmasi.
b.      Menambah wawasan kami mengenai nama dan jenis obat yang beredar luas di masyarakat.
c.       Menambah wawasan tentang berbagai macam tulisan dokter.
d.   Kami dapat membandingkan antara teori yang kami dapat di sekolah dengan praktek kerja lapangan yang sebenarnya di Intalasi Farmasi Khususnya Apotek Ravina Husada.

BAB II
TINJAUAN UMUM
2. 1            Sejarah Apotek di Indonesia
     Farmasi sebagai profesi di Indonesia sebenarnya relatif masih muda dan baru dapat berkembang secara berarti setelah masa kemerdekaan. Pada zaman penjajahan, baik pada masa pemerintahan Hindia Belanda maupun masa pendudukan Jepang, kefarmasian di Indonesia pertumbuhannya sangat lambat, dan profesi ini belum dikenal secara luas oleh masyarakat. Sampai proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, para tenaga farmasi Indonesia pada umumnya masih terdiri dari asisten apoteker dengan jumlah yang sangat sedikit. Tenaga apoteker pada masa penjajahan umumnya berasal dari Denmark, Austria, Jerman dan Belanda. Namun, semasa perang kemerdekaan, kefarmasian di Indonesia mencatat sejarah yang sangat berarti, yakni dengan didirikannya Perguruan Tinggi Farmasi di Klaten pada tahun 1946 dan di Bandung tahun 1947.
Baca Juga : Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Di Apotek Berkah Putra
2. 2            Definisi Apotek
   Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan maka dalam pelayanannya harus mengutamakan kepentingan masyarakat yaitu menyediakan, menyiapkan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 tahun 2017 Tentang Apotek, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Sedangkan yang dimaksud dengan Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien (PERMENKES No. 35 Tahun 2016).

2. 3            Landasan Hukum Apotek
Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang diatur dalam:
a.       Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan
b.    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2016  Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek.
c.       Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek.
d.      Peraturan Pemerintan Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian.
e.       Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2016 Tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.
f.       Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2014 Tentang Penggolongan Narkotika.
g.      Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2015 Tentang Penggolongan Psikotropika.
h.    Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2015 Tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika.
i.      Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek, berisi Daftar Obat Wajib Apotek No. 1.
j.       Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes /Per/X /1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 2.
k.      Keputusan Menteri Kesehatan No. 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3.

2. 4            Tugas dan Fungsi Apotek
   Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek, apotek menyelenggarakan fungsi :
a.       Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai; dan
b.      Pelayanan farmasi klinik, termasuk di komunitas.
   Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 Tentang Perubahan dan Tambahan Atas Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1969 Tentang Apotek, tugas san fungsi apotek adalah :
a.       Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
b.   Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.
c.       Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus mendistribusikan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
d.      Sebagai sarana informasi obat kepada masyarakat dan tenaga kesehatan lainnya.

2. 5            Cara Perizinan Apotek
   Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang Apotek, tata cara perizinan Apotek sebagai berikut :
1.      Setiap pendirian Apotek wajib memiliki izin dari Menteri, yang kemudian akan melimpahkan kewenangan pemberian izin kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota berupa SIA.
2.       SIA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
3.      Untuk memperoleh SIA, Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 1.
4.      Permohonan SIA harus ditandatangani oleh Apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen administratif meliputi:
a.       Fotokopi STRA dengan menunjukkan STRA asli;
b.      Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
c.       Fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker;
d.      Fotokopi peta lokasi dan denah bangunan; dan
e.       Daftar prasarana, sarana, dan peralatan.
5.      Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima permohonan dan dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek dengan menggunakan Formulir 2.

2. 6            Pengelolaan Apotek
     Pengelolaan sebagai proses yang dimaksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan secara efektif dan efisien. Tujuannya adalah agar tersedianya seluruh pembekalan farmasi di apotek dengan mutu yang baik, jenis dan jumlah yang sesuai kebutuhan pelayanan kefarmasian bagi masyarakat yang membutuhkan. Pengelolaan di apotek meliputi pengelolaan terhadap obat dan pembekalan farmasi, pengelolaan terhadap resep, dan pengelolaan terhadap sumber daya (Permenkes, 2002).

2. 7            Pengelolaan Sediaan Farmasi
    Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2014, meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan.
1.      Perencanaan
     Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.
2.      Pengadaan
    Suatu proses kegiatan yang bertujuan agar tersedia sediaan farmasi dengan jumlah dan jenis yang cukup sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Pengadaan yang efektif merupakan suatu proses yang mengatur berbagai cara, teknik dan kebijakan yang ada untuk membuat suatu keputusan tentang obat-obatan yang akan diadakan, baik jumlah maupun sumbernya. Kriteria yang harus dipenuhi dalam pengadaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan adalah:
a.       Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diadakan memiliki izin edar atau nomor registrasi.
b.   Mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan dapat dipertanggung jawabkan.
c.       Pengadaan sediaan farmasi dan alat kesehatan berasal dari jalur resmi.
d.      Dilengkapi dengan persyaratan administrasi.
    Pengadaan di apotek dapat dilakukan dengan cara pembelian (membeli obat ke PBF) atau dengan cara konsinyasi (dimana PBF menitipkan barang di apotek dan dibayar setelah laku terjual). Proses pengadaan barang dengan cara pembelian dilakukan melalui beberapa tahap, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Persiapan
    Persiapan ini dilakukan untuk mengetahui persediaan yang dibutuhkan apotek untuk melayani pasien. Persediaan yang habis dapat dilihat di gudang atau pada kartu stok. Jika barang memang habis, dapat dilakukan pemesanan. Persiapan dilakukan dengan cara data barang-barang yang akan dipesan dari buku defektan termasuk obat-obat yang ditawarkan supplier.
b.      Pemesanan
    Pemesanan dapat dilakukan jika persediaan barang habis, yang dapat dilihat dari buku defektan. Pemesanan dapat dilakukan langsung kepada PBF melalui telepon, E-mail maupun lewat salesmen yang datang ke apotek. Pemesanan dilakukan dengan menggunakan surat pemesanan (SP), surat pemesanan minimal dibuat 2 lembar (untuk supplier dan arsip apotek) dan di tanda tangani oleh apoteker. Biasanya SP dibuat 3 lembar. Untuk SP pembelian obat-obat narkotika dibuat menjadi 4 lembar (3 lembar diserahkan pada PBF yaitu warna putih, merah, biru dan satu lembar berwarna kuning sebagai arsip si di apotek). Untuk obat narkotika 1 surat permintaan hanya untuk satu jenis obat, sedangkan untuk psikotropika 1 surat permintaan bisa untuk satu atau lebih jenis obat.
3.      Penerimaan
      Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Penerimaan adalah kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak/pesanan. Penerimaan merupakan kegiatan verifikasi penerimaan/penolakan, dokumentasi dan penyerahan yang dilakukan dengan menggunakan "checklist" yang sudah disiapkan untuk masing-masing jenis produk yang berisi antara lain :
a.       Kebenaran jumlah kemasan dan mencocokkan fraktur dengan SP
b.      Kebenaran kondisi kemasan seperti yang diisyaratkan
c.       Kebenaran jumlah satuan dalam tiap kemasan;
d.      Kebenaran jenis produk yang diterima;
e.       Tidak terlihat tanda-tanda kerusakan;
f.       Kebenaran identitas produk;
g.      Penerapan penandaan yang jelas pada label, bungkus dan brosur;
h.      Tidak terlihat kelainan warna, bentuk, kerusakan pada isi produk,
i.        Jangka waktu daluarsa yang memadai.
4.      Penyimpanan
    Penyimpanan adalah suatu kegiatan menata dan memelihara dengan cara menempatkan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian dan gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat. Penyimpanan harus menjamin stabilitas dan keamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan. Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk sediaan dan alfabetis dengan menerapkan prinsip First ln First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO) disertai sistem informasi manajemen. Untuk meminimalisir kesalahan penyerahan obat direkomendasikan penyimpanan berdasarkan kelas terapi yang dikombinasi dengan bentuk sediaan dan alfabetis. Apoteker harus rnemperhatikan obat-obat yang harus disimpan secara khusus seperti narkotika, psikotropika, obat yang memerlukan suhu tertentu, obat yang mudah terbakar, sitostatik dan reagensia. Selain itu apoteker juga perlu melakukan pengawasan mutu terhadap sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diterima dan disimpan sehingga terjamin mutu, keamanan dan kemanfaatan sediaan farmasi dan alat kesehatan.
5.      Pendistribusian
     Pendistribusian adalah kegiatan menyalurkan atau menyerahkan sediaan farmasi dan alat kesehatan dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan pasien. Sistem distribusi yang baik harus:
a.       Menjamin kesinambungan penyaluran atau penyerahan.
b.      Mempertahankan mutu.
c.       Meminimalkan kehilangan, kerusakan dan kedaluarsa.
d.      Menjaga ketelitian pencatatan.
e.    Menggunakan metode distribusi yang efisien, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku.
f.       Menggunakan sistem informasi manajemen.

2. 8            Pengelolaan Sumber Daya
   Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, pengelolaan sumber daya terdiri dari :
1.      Sumber Daya Manusia
   Sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku apotek harus dikelola oleh seorang Apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, Apoteker senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi, menetapkan diri sebagai pemimpin dalam situasi multidisiplin, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.
2.      Keuangan
Laporan keuangan yang biasa dibuat di apotek adalah (Umar, M., 2011):
a.       Laporan Laba-Rugi yaitu laporan yang menggambarkan tentang aliran pendapatan dan biaya operasional yang dikeluarkan selama periode waktu tertentu.
b.      Laporan Neraca yaitu laporan yang menggambarkan tentang potret kondisi kekayaan apotek pada tanggal tertentu.
c.       Laporan Aliran Kas yaitu laporan yang menggambarkan tentang aliran kas yang masuk dan keluar pada periode tertentu.
3.      Administrasi
Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di apotek, perlu dilaksanakan kegiatan administrasi yang meliputi (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2004):
a.       Administrasi umum
Pencatatan, pengarsipan, pelaporan narkotika, psikotropika dan dokumentasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b.      Administrasi pelayanan
Pengarsipan resep, pengarsipan catatan pengobatan pasien, pengarsipan hasil monitoring penggunaan obat.

BAB III
PEMBAHASAN
3. 1            Waktu, Tempat dan Teknis Pelaksanaan PKL
    PKL ini dilaksanakan pada hari Senin,1 Oktober 2018 sampai dengan 31 Desember .Di Apotek Ravina Husada , Apotek Ravina Husada buka pada hari (  Senin – Sabtu ) pukul 07.30 WIB – 21.30 WIB.

3. 2            Sejarah Apotek Apotek Ravina Husada
    Apotek Ravina Husada. berdiri pada tanggal 28 Februari 2017 terletak di Jl.Dewi Sartika RT 04 RW 01 Kelurahan Debong Kulon  Kecamatan Tegal Selatan dan mempunyai izin Apotek (SIA) No : 001/SIA/11.03/2017.
    Apotek Ravina Husada dipimpin oleh Ibu Christyana Anggraeni,S.Farm.,Apt dimana beliau sebagai Apoteker penanggung jawab Apotek sekaligus pemilik sarana Apotek.
Berdasarkan pada keputusan menteri kesehatan No 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di Apotek maka Apotek Ravina Husada mempunyai :
1.      Visi
   Mewujudkan pelayanan kefarmasian yang bermutu dengan menjadikan sarana farmasi Ravina Husada sebagai sarana kesehatan yang berbasis Pharmaceutical Care, dengan menyediakan obat dan perbekalan kesehatan yang lengkap dan harga terjangkau sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat.
2.      Misi
a.  Memberikan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada customer satisfaction untuk meningkatkan kualitas hidup pasien menuju tercapainya derajat kesehatan yang optimal.
b.   Menyediakan obat, alat kesehatan, dan perbekalan farmasi lainnya yang berkualitas dan terjangkau oleh masyarakat.

3. 3            Tujuan Pendirian Apotek
a.   Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
b.  memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan Apotek dan Sumber Daya Manusia ( SDM ).
c.    Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat dan Sumber Daya Manusia Apotek. 
Baca Juga : laporan Kerja Lapangan Di Pukesmas Bandung Kota Tegal
3. 4            Pengelolaan        
3.4.1 Sumber Daya Manusia
    Sesuai ketentuan perundang – undangan yang berlaku bahwa instanlansi farmasi harus dikelola seorang Apoteker yang professional. Pengelolaan instanlansi farmasi, senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mempu berkomunikasi antar profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karir, membantu memberikan pendidikan, memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan pendidikan, dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan. Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang dimiliki instalansi farmasi Apotek Ravina Husada
3.4.2 Sarana Dan Prasarana
A.    Sarana
Ruangan yang berukuran sedang ini terdiri dari beberapa lomponen atau bagian-bagian, diantaranya adalah :
1.      Ruang Racikan
Terdapat dibagian belakang disamping lemari pendingin atau kulkas yaitu ruang pengemasan atau pemberian etiket dan label pada tablet, sirup, salep, dan sediaan farmasi lainnya.
2.      Ruang Tunggu
Berada dibagian depan ruang instalansi farmasi.
3.      Ruang Komputer
Berada dibagian belakang tempatnya disamping ruang racikan.
B.     Prasarana
1.      Bahan
Meliputi semua macam – macam obat – obatan, bahan baku obat bahan pelarut ( air, alcohol dan sirupus ) kertas perkamen dan plastik klip.
2.      Alat
Meliputi peralatan peracikan seperti mortar, stemper, kertas perkamen dan serbet serta alat pembolong kertas.
3.4.3 Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Perbekalan Farmasi      
3.4.3.1 Perencanan
    Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyusun daftar kebutuhan obat yang berkaitan dengan suatu pedoman atas dasar konsep kegiatan yang sistematis dengan urutan yang logis dalam mencapai sasaran atau tujuan yang telah dititipkan.
Metode perencanaan di Apotek Ravina Husada meliputi :
A.    Metode konsumsi yaitu metode perencanaan buku de fecta atau buku stok barang kosong.
B.  Metode epidemiologi yaitu metode perencanaan berdasarkan jenis penyakit yang sedang mewabah. 
3.4.3.2 Pengadaan 
     Pengadaan adalah proses penyediaan obat yang dibutuhkan di Apotek dan unit pelayanan kesehatan lainnya yang diperoleh dari pemasok eksternal melalui pemberian manufaktur, distributor, atau PBF. Siklus pengadaan obat mendcakup pemilihan kebutuhan, penyesuaian, kebutuhan dan dana. Pemilihan metode pengadaan, penetapan atau pemilihan pemasok, penetapan masa kontrak, pemantauan status pemesanan, penerimaa dan pemeriksaan obat, pembayaran, pedistribusian dan pengumpulan informasi penggunaan obat. Sistem pengadaan obat di Apotek Ravina Husada yaitu :
1.      Sistem Tempo
Yaitu dengan melakukan order terlebih dahulu ke PBF yang bersangkutan.
2.      Sistem COD ( Cash On Delivery )
Yaitu pembelian secara cash atau langsung.
3.      Sistem konsinyasi
Yaitu membayar sejumlah barang titipan dari sales yang telah terjual.
4.      Sistem Kredit
Yaitu dengan melakukan pembayaran secara berkala sesuai dengan kesepakatan kedua pihak.
3.4.3.3 Penyimpanan
    Metode penyimpanan obat di Apotek Ravina Husada yang diperoleh dari pemasok eksternal melalui pemberian dari manufaktur, distributor atau pedagang besar farmasi ( PBF ). Sistem penyimpanan obat di Apotek Ravina Husada meliputi :
1.      Berdasarkan abjad
2.      Berdasarkan farmakologi
3.      Berdasarkan bentuk sediaan
4.      Berdasarkan penggolongan obat
5.      FIFO ( first in first old ) obat yang memiliki tanggal kadaluarsa terdekat, digunakan terlebih dahulu.
3.4.3.4 Administrasi
Sistem Informasi Administrasi ( SIA ) merupakan sistem informasi yang berperan dalam proses administrasi, seperti : proses mencatat, menghitung dan surat menyurat.
Berikut ini adalah kumpulan data yang dapat mempermudah ]proses administrasi yang terdapat di Apotek Ravina Husada:
1.      Buku Faktur
Berisi kumpulan faktur pembelian sediaan farmasi.
2.      Surat Pesanan
Ada surat pesanan obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan surat pesanan prekusor, narkotikan, psikotropika.
3.      Buku Lunas
Berisi tentang pelunasan sediaan farmasi.
4.      Buku Resep
Berisi kumpulan resep dokter, dimana resep pasien rawat jalan dan rawat inap atau rawat darurat dipisah.
5.      Buku Stok Barang Kosong ( Defecta )
Berisi kumpulan obat yang kosong atau habis.
6.      Buku Pembelian ( Buku Atas )
Berisi kumpulan obat atau barang yang dibeli oleh masyarakat.
7.      Buku Inkaso atau Tagihan ( Buku Bawah )
Berisi inkaso atau tagihan dari apotek lain, PBF, atau dokter yang telah memesan barang di Apotek tersebut.
8.      Buku Salinan Faktur
Buku inkaso dari PBF, buku salinan nama obat dan jumlah obat yang telah di order dari PBF.
9.      Buku Orderan
Berisi pemesanan barang – barang.
3.4.3.5 Keuangan di Apotek
a.       Pemasukan
Barang pemesanan barang dan pelayanan obat tanpa resep atau swamedikasi dan pelayanan obat menggunakan resep.
b.      Pengeluaran
Digunakan untuk pembayaran inkaso atau tagihan untuk pedangan besar ( PBF ) yang telah bersangkutan dan digunakan untuk keperluan lainnya. Seperti membeli label harga Bolpoint, kresek obat berwarna putih, photo copy dan membeli makanan + minuman.
       
3. 5            Pelayanan
     Pelayanan di instalasi farmasi di Apotek Ravina Husada untuk masyarakat sekotar menggunakan prinsep yaitu senyum, sopan santun, salam dan berbahasa yang benar.
Apotek Ravina Husada memberikan pelayanan seperti :
a.       Pelayanan obat tanpa resep
    Pelayanan ini seperti pelayanan obat bebas, obat bebas terbatas. Pelayanan ini lebih sederhana dibandingkan dengan pelayanan terhadap resep dokter. Petugas dapat langsung mengambilkan obat yang diminta oleh konsumen setelah harga disetujui. Kemudian langsung dibayar pada petugas dan dicatat pada buku penjualan bebas oleh petugas. Pada saat penggantuan sheft akan menghitung jumlah uang yang masuk baik uang atas atau uang bawah dan melakukan operan apa yang telah diperoleh dari shift pagi kepada petugas shift siang.
b.      Pelayanan obat dengan resep
     Melakukan skrining administratif untuk menghindari kesalahan penulisan resep maupun pemalsuan resep. Melakukan skrining farmasetif yaitu menyesuaikan dengan kondisi pasien.

3. 6            Perpajakan
Perpajakan pada Apotek Ravina Husada meliputi :
1.      Pajak bumi dan bangunan
Besarnya pajak ditentukan oleh tanah dan bangunan Apotek Ravina Husada
2.      Pajak penghasilan ( PPh ) pasal 21
Besarnya PPh pada Apotek Ravina Husada dihitung berdasarkan penghasilan netto dikurrangi dengan penghasilan tidak kena pajak ( PTKP )
3.      Pajak pertambahan nilai ( PPN )
Dalam metode ini, PPN dihitung dari selisih pengeluaran dan pajak pemasukan. Setiap transaksi PBF menyerahkan faktor pajak kepada Apotek Ravina Husada sebagai bukti bahwa Apotek Ravina Husada membayar PPN.

3. 7            Evaluasi Mutu Pelayanan        
    Meskipun telah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, namun dalam pelaksanaan pelayanan Apotek Ravina Husada tentunya tidak terlepas dari rasa ketidakpuasan semua masyarakat setempat. Oleh karenanya, pihak Apotek Ravina Husada akan terus berusaha mengevaluasi kritik dan saran sehingga menjamin mutu pelayanan kefarmasian yang terbaik. Pembahasan tentang evaluasi mutu pelayanan merupakan hal yang sangat pokok dan penting pada rapat internal yang biasanya dilaksanakan minimal satu bulan sekali.
3.7.1 Apotek Ravina Husada Memiliki Standar Operasional Apotek
1.      SOP Pemesanan obat
2.      SOP Penerimaan obat dari PBF
3.      SOP Penyimpanan obat
4.      SOP Pelayanan swamedikasi
5.      SOP Pelayanan resep
6.      SOP Meracik obat
7.      SOP Konseling

3. 8            Rencana Strategi Pengembangan Yang ada di Apotek Ravina Husada
1.      Penetapan harga yang kompetitif dibandingkan dengan Apotek yang ada disekitar.
2.      Kerjasama dengan dokter praktek.
3.      Memberikan pelayanan kefarmasian yang efektif, ramah dan sopan.
4.      Menambah produk yang ditawarkan dengan menyesuaikan pola kebutuhan pasien.
5.      Menerapkan sistem komputerisasi dan mengaktifkan kartu stok.
6.      Menerapkan pengawasan obat narkotika dan obat psikotropika.
7.      Tanggal kadaluarsa ( Esp. Date ) harus dengan pengawasan secara optimal dalam penggunaan obat atau perbekalan kesehatan lainnya.
8.      Menyediakan leaflet sebagai sarana informasi dan edukasi kepada masyarakat.
9.  Penerapan strategi pemasaran yang mengedepankan citra Apotek yang lebih ekonomis, informative, pelayanan.
Berdasarkan data – data yang diperoleh dari survey pendahuluan terhadap posisi strategis daerah / peta lokasi dan keberadaan competitor, dapat diterangkan beberapa hal yang penting. Hal ini dapat dilihat dari aspek kekuatan, kelemahan, peluag dan ancaman terhadap Apotek. “Apotek Ravina Husada” ( Swot Analisis ) sebagai berikut.
1.      Kekuatan / Strength
Yang menjadi kekuatan kompetitif Apotek Ravina Husada adalah sebagai berikut :
a.       Katersediaan obat serta perbekalan farmasi lainnya di Apotek Ravina Husada disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat sekitar, sehingga akan meningkatkan omset Apotek.
b.      Harga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
c.       Lokasi Apotek mudah dijangkau.
d.      Memberikan pelayanan yang rama dan sopan serta terpercaya.
2.      Peluang / Opportunity
a.       Potensi Daerah
Jumlah penduduk cukup padat karena merupakan daerah pemukiman penduduk.
b.      Tingkat pendidikan oleh karena itu Apoteker harus mempunyai komunikasi yang efektif untuk menarik minat serta kepuasan pelanggan.
c.       Apotek menyediakan pelayanan seperti :
Pelayanan dan konsultasi obat dengan Apoteker.
d.      SDM / tenaga kerja Apotek juga memberikan nilai tambah pelayanan dan kepercayaan masyarakat / pelanggan.
Adapun Program atau Rencana Kerja yang perlu dilakukan oleh Apoteker adalah sebagai berikut :
a.       Memberikan kepada pasien dalam penggunaan obat yang secara ekonomis, dan agar pelanggan terhindar dari penyalahgunaan obat, memiimalkan resiko efek samping, interaksi dan kontraindikasi.
b.      Memberikan informasi dan edukasi kepada tenaga kerja ( karyawan ) di Apotek dalam penyimpanan obat dan pengetahuan yang diperlukan dalam swamedikasi.
c.       Melakukan komunikasi yang baik dengan PSA dalam memberikan pemahaman bahwa Apoteker adalah Pengelola Apotek yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam pelayanan kefarmasian di Apotek.
d.      Melakukan pengawasan pengadaan barang agar melalui jalur resmi sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku.
e.       Membuat SOP pengadaan, penerimaan, penyimpanan obat dan pelayanan pasien ( SOP terlampir ).
f.       Melakukan perbaikan administrasi umum ( Pencatatan dan pengarsipan faktur pembelian dan resep, pelaporan narkotika dan psikotropika ) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

BAB IV
PENUTUP
4. 1            Kesimpulan
1.    Apotek Ravina Husada memiliki lokasi yang cukup strategis dan mudah dijangkau masyarakat, selain itu Apotek Ravina Husada juga melayani pembelian obat.
2.     Pelayanan di Apotek Ravina Husada cukup baik, para pelayan bersikap baik dan ramah terhadap pembeli.
3.      Pelayanan Apotek Ravina Husada mampu memberikan swamedikasi dengan baik dan tepat.
4. 2            Saran
1.      Saran kepada pihak sekolah :
a.   Sebaiknya pembekalan mengenai hal – hal yang berkaitan dengan kegiatan PKL lebih diperbanyak dan diperluas sehingga siswa – siswi dapat lebih mantap dalam melaksanakan PKL.
b.      Perlu adanya bimbingan kepada siswa – siswi yang akan PKL bagaimana cara membuat laporan PKL.
2.      Saran untuk Apotek
a.       Meningkatkan pelayanan terhadap pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien.
b.      Meningkatkan ketersediaan perbekalan farmasi.
3.      Saran untuk siswa – siswi yang melaksanakan PKL
a.       Sebaiknya siswa – siswi yang hendak melaksanakan PKL kiranya 24omp menguasai pelajaran kefarmasian khususnya sinonim, mengetahui nama – nama obat generik maupun obat merk atau dagang serta pengetahuan mengenai tata cara pemakaian komputer.
b.      Hendaknya siswa – siswi PKL dapat lebih disiplin, menjaga sikap dan mengikuti segala aturan yang telah ditetapkan oleh instansi yang menjadi tempat PKL.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

1 Response to "Laporan Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Di Apotek Ravina Husada"

  1. Apotik ini sebagai salah satu contoh laporan saja kan yah?

    POKERWAW
    Daftar Poker Online
    Wow Keren
    Poker Pulsa
    QQ Online
    Bandar Ceme Online
    Bandar Poker Resmi
    Agen Poker Pulsa

    Hubungi kami melalui cara di bawah ini
    BBM : POKERWAW
    WhatsApp : (+855)715381888
    LINE : POKERWAW
    LIVECHAT POKERWAW

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel